Kisah Inspirasi Burger Dinar Yogyakarta

Sumber : Doc Pribadi Marketing Mirota Pasaraya

Kisah inspirasi untuk kita renungkan. Mungkin untuk kalangan mahasiswa di yogyakarta, Burger Dinar sudah tidak asing lagi karena sering mangkal di wilayah kampus UGM dan sekitarnya. Beberapa bulan yang lalu dan juga hari ini 13 Mar 2018, karyawan Mirota Pasaraya mendapat kesempatan untuk bisa mencicipi burger. Makanan yang mungkin sudah biasa kita dengar di telinga kita. Tapi, taukah kalian siapa pembuat jajanan burger itu? Burger tersebut di buat oleh seorang bapak yang sudah tidak berusia muda lagi yaitu Mbah Wahadi, umur 74 tahun. Ceritanya Burger Mbah Wahadi ini diborong oleh Pimpinan Mirota Pasaraya untuk diberikan ke semua karyawannya.

Mbah Wahadi memulai berjualan burger dari tahun 2004 sampai sekarang. Dahulunya, simbah sempat berjualan sembako, tapi karena krisis moneter akhirnya simbah beralih untuk berjualan es krim. Sempat beberapa waktu Mbah Wahadi berjualan es krim, tapi karena sudah banyak saingan akhirnya berhenti dan memulai usaha burger Dinar ini.

Sumber : Doc Pribadi Marketing Mirota Pasaraya
Dalam menjajakan burgernya, Mbah Wahadi harus mengayuh sepedanya kurang lebih 70 km. Simbah mengayuh sepedanya dari rumahnya di Imogiri sampai Jl. Kaliurang, Sleman. Beliau berjualan di Jogja hanya hari Selasa, Rabu dan Sabtu. Selebihnya dia bekerja apa saja yang bisa dikerjakan dirumahnya.
Burger olahan Mbah Wahadi, Sumber : Doc Doc Pribadi Marketing Mirota Pasaraya
“Omah kulo ten Imogiri, cedak makam raja-raja (rumah saya di Imogiri, dekat makam raja-raja),” tutur Mbah Wahadi. Ya, demi menawarkan burger yang dijualnya seharga Rp 7.000,-, termasuk murah karena harga burger di Yogyakarta sekarang sekitar Rp 15.000,- per potong. Isi burgernya ada beef patty, timun, tomat dan bawang bombay. Burgernya dikemas dengan kertas nasi dibuat kantong. Kualitas bahannya sangat baik. Saus dan mayonnaise nya juga bukan yang murah.
(Baca Juga Kisah Inspirasi dari Mbah Jum disini)

Semangat Bekerja Meski Usia tidak lagi Muda 
Dengan mengayuh sepeda, pada pagi hari dari Imogiri hingga kawasan Besi Jl. Kaliurang dengan jarak tempuh 40km untuk sampai pada pabrik roti tawar yang akan dijualnya. Setelah mengambil roti untuk bahan dasar burger, Mbah Wahadi istirahat sejenak di pabrik roti menunggu hingga pukul 12.00 saatnya makan siang. Setelah jam makan siang, Mbah Wahadi mulai berkelilling dari kampung ke kampung hingga ke tengah kota Jogja. Setiap hari Selasa, Rabu, Sabtu pukul 15.00 wib hingga 20.00 wib Mbah Wahadi menjajakan dagangannya di depan Bank Mandiri UGM Jl. Kaliurang Km 3,8. Namun apabila belum habis sampai pukul 20.00 wib dengan mengayuh sepedanya berkeliling seputar kota Jogja sambil mencari tempat istirahat. Namun apabila dagangannya beliau habis, lanjut mengayuh sepedanya pulang kerumahnya yang berjarak 30km dari pusat kota ke arah selatan. Panas maupun hujan, Mbah Wahadi terjang tanpa berkeluh kesah.

Sumber : Doc Pribadi Marketing Mirota Pasaraya
Semangat bekerja Mbah Wahadi patut kita contoh. Konsisten, telaten dan sabar adalah motto yang selalu dipegang Mbah Wahadi. Pekerjaan apapun, kalau kita tidak konsisten, telaten dan sabar akan sama saja. “Kabeh gawean niku podo mawon mbak, sing penting halal (semua pekerjaan sama saja mbak, yang penting halal)”, tutur Mbah Wahadi.

Dengan adanya kisah inspirasi dari mbah Wahadi ini, membuat kita tersadar bahwa Bekerja adalah Ibadah. Berbagai halangan yang menghadang tidak boleh meredupkan semangat untuk mengais rejeki. Semangatnya untuk berdagang sangat luar biasa bahkan hingga begadang pada malam hari dengan mengayuh sepeda yang disebelahnya gerobak untuk menjajakan dagangannya. Sepatutnya kita malu bila semangat kita mencari nafkah kalah dengan Mbah Wahadi.

Original Story dan Writer: Martina Rini Setiani (Marketing dan Humas Mirota Pasaraya Yogyakarta)



1 Response to "Kisah Inspirasi Burger Dinar Yogyakarta"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel